
SURABAYA, JATIM | Beritakarya.com – Peringatan Hari Kartini kembali menjadi momentum refleksi atas perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam membuka jalan kesetaraan bagi perempuan. Namun di tengah realitas sosial saat ini, peringatan tersebut tak cukup hanya menjadi seremoni.
Ia menuntut pembuktian nyata bahwa semangat emansipasi masih hidup—terutama dalam sektor krusial seperti penegakan hukum.
Di tengah kompleksitas persoalan hukum yang kian beragam, mulai dari ketimpangan akses keadilan hingga lemahnya perlindungan terhadap kelompok rentan, kehadiran perempuan di ruang-ruang hukum menjadi semakin relevan.
Perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan aktor penting yang turut menentukan arah keadilan.
Salah satu sosok yang dinilai mencerminkan semangat tersebut adalah Noveriana, SH. Ia disebut-sebut sebagai representasi Kartini masa kini—berani, vokal, dan memiliki komitmen dalam mengawal persoalan hukum.
Dalam berbagai dinamika yang dihadapi, keberanian dan ketegasan menjadi modal utama untuk memastikan hukum tidak berjalan timpang.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi perempuan di bidang hukum tidak bisa dipandang ringan. Stigma, tekanan sosial, hingga budaya patriarki masih menjadi hambatan nyata.
Di sisi lain, tuntutan profesionalisme dan integritas tetap harus dijaga agar kepercayaan publik terhadap penegakan hukum tidak luntur.
Dalam konteks ini, figur seperti Noveriana tidak hanya dituntut tegas, tetapi juga konsisten dalam menjunjung prinsip keadilan yang objektif dan tidak diskriminatif.
Makna Hari Kartini pun menjadi semakin luas. Bukan hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga mengukur sejauh mana cita-cita kesetaraan telah terwujud.
Pendidikan, keberanian bersuara, dan akses terhadap ruang publik menjadi indikator penting dalam menilai kemajuan tersebut.
Di tengah harapan akan hukum yang adil—tidak tajam ke bawah dan tidak tumpul ke atas—peran perempuan menjadi salah satu pilar yang tidak bisa diabaikan.
Namun, penting pula untuk memastikan bahwa apresiasi terhadap individu tidak berujung pada glorifikasi semata, melainkan menjadi dorongan untuk memperkuat sistem hukum yang transparan dan akuntabel.
Akhirnya, semangat Kartini hari ini bukan sekadar simbol, melainkan panggilan untuk terus bergerak. Perempuan seperti Noveriana, SH menjadi bagian dari wajah perubahan itu—menghadirkan harapan, sekaligus tantangan, bahwa perjuangan menuju keadilan masih panjang dan membutuhkan kontribusi semua pihak.
Kaperwil Jatim










