
GRESIK, || Beritakarya.com
Sebuah video yang memperlihatkan seorang pasien diduga mendapat perlakuan tidak pantas dari oknum pegawai Puskesmas Menganti viral di media sosial dan memicu gelombang kemarahan publik.
Rekaman yang beredar luas tersebut langsung menyedot perhatian masyarakat, Jum’at 12/6/2026
Warganet berbondong-bondong memenuhi kolom komentar dengan kritik keras terhadap pelayanan kesehatan yang seharusnya mengedepankan sikap humanis, empati, dan profesionalisme.
Dalam video tersebut, pasien mengaku dibentak saat mengurus pelayanan kesehatan. Kondisi ini sontak memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah fasilitas kesehatan yang dibangun untuk melayani rakyat kini mulai kehilangan nurani pelayanannya?
Puskesmas bukanlah kantor penegak hukum, bukan pula tempat masyarakat dihakimi. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi garda terdepan bagi warga yang sedang sakit, membutuhkan pertolongan, dan berharap mendapatkan pelayanan yang layak serta manusiawi.
Masyarakat datang ke puskesmas bukan untuk dimarahi, bukan untuk dibentak, apalagi diperlakukan seolah menjadi beban. Mereka datang dengan harapan memperoleh pelayanan medis yang cepat, ramah, dan penuh kepedulian.
Jika benar terjadi pembentakan terhadap pasien sebagaimana yang ramai diperbincangkan publik, maka tindakan tersebut bukan sekadar persoalan etika komunikasi. Lebih dari itu, tindakan tersebut berpotensi mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan kesehatan yang selama ini menjadi tumpuan warga.
Alasan bahwa seseorang memiliki karakter bicara keras tidak dapat dijadikan pembenaran ketika berhadapan dengan masyarakat yang sedang membutuhkan pelayanan. Terlebih lagi, pasien yang datang ke fasilitas kesehatan umumnya berada dalam kondisi rentan, baik secara fisik maupun psikologis.
Pelayanan publik yang dibiayai dari uang rakyat seharusnya menghadirkan rasa aman, bukan rasa takut. Seragam, jabatan, dan kewenangan bukanlah tiket untuk memperlakukan masyarakat secara semena-mena. Sebaliknya, semakin besar amanah yang diemban, semakin besar pula tuntutan untuk bersikap profesional dan menghormati warga.
Gelombang reaksi publik yang membanjiri media sosial menjadi sinyal bahwa masyarakat sudah muak dengan praktik pelayanan yang dinilai arogan dan minim empati. Di era keterbukaan informasi saat ini, satu tindakan yang dianggap tidak manusiawi dapat meruntuhkan citra institusi yang dibangun bertahun-tahun.
Kasus ini seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh penyelenggara pelayanan publik, khususnya sektor kesehatan.
Evaluasi tidak boleh berhenti pada klarifikasi atau pembinaan semata.
Yang dibutuhkan masyarakat adalah perubahan nyata dalam budaya pelayanan, agar tidak ada lagi warga yang merasa diperlakukan tidak layak saat mencari pertolongan medis.
Rakyat tidak pernah meminta dilayani bak pejabat atau bangsawan. Mereka hanya ingin dihormati sebagai manusia.
Puskesmas sejatinya hadir sebagai tempat pertolongan pertama bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis, bukan tempat yang membuat pasien pulang dengan luka batin akibat pelayanan yang dianggap tidak beretika.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat permintaan maaf secara resmi dari pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut. Publik pun kini menunggu langkah tegas serta penjelasan resmi dari pihak terkait guna mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
(Wan )










