
Foto Ir. Joko Widodo bersama DPJ PJI Nganjuk yang sedang berkunjung di kediamannya
Hari ini tanggal 9 Februari 2026 adalah HARI PERINGATAN PERS NASIONAL ke 80 Tahun .
Pers Indonesia dibesarkan dominan dengan kekuatan RASA CINTA TANAH AIR AWALNYA, SENANTIASA “MENGGAUNGKAN KECERDASAN BANGSA, MENDORONG NEGARA INDONESIA BERDAULAT DAN MERDEKA .
Banyak tokoh pers nasional sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia:
Beberapa tokoh pers nasional sebagai pejuang kemerdekaan:
- “KH. Agus Salim“, seorang Jurnalis dan redaktur di Harian Neratja sekitar tahun 1915, sebagai diplomat ulung dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia, dirinya tiga tahun setelah kembali dari Jedda, menjadi Pemimpin Redaksi harian Hindia Baroe di Jakarta. KH Agus Salim menggunakan surat kabar sebagai sarana menyebarkan ide-ide antikolonial, nasionalisme, dan pendidikan Islam;
- “Tirto Adhi Soerjo”, dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia, mendirikan surat kabar pribumi pertama, Medan Prijaji (1907), yang secara berani mengkritik pemerintah kolonial Belanda;
- “S.K. Trimurti (Soerastri Karma Trimurti)“, wartawati dan pejuang perempuan yang gigih menulis tulisan anti-kolonial tajam, yang mengakibatkan dirinya beberapa kali dipenjara oleh Belanda;
- “B.M. Diah (Burhanuddin Mohammad Diah)“, Tokoh pers yang senantiasa menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan. Dirinya yang menyelamatkan naskah asli proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno;
- Ki Hajar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat),” selain tokoh pendidikan juga jurnalis dalam tulisan ikoniknya, “Als ik eens Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda), membuat dirinya diasingkan;
- “Rohana Koeddoes“, wartawati perempuan pertama di Indonesia yang mendirikan Sunting Melayu (1912), memperjuangkan emansipasi dan kesadaran kebangsaan melalui pena;
- “Ernest Douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudi)“, pendiri koran De Expres yang aktif menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan mendirikan Indische Partij;
- “Djamaluddin Adinegoro“, tokoh pers terkemuka yang aktif dalam pergerakan melalui berbagai surat kabar, termasuk Medan Prijaji.
- “Adam Malik“, salah satu pendiri Kantor Berita Antara pada 13 Desember 1937, yang berfungsi sebagai alat perjuangan pers untuk menyebarkan semangat kemerdekaan.
“Mereka para Jurnalis di atas membuktikan bahwa pena lebih tajam daripada pedang, dalam upaya melepaskan diri dari belenggu penjajahan, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara dibanding semata menjadi oportunis.“
Dalam peringatan Hari Pers Nasional Dewan Perwakilan Cabang ( DPC ) Persatuan Jurnalis Indonesia ( PJI ) Kab. Nganjuk melakukan kegiatan MERAJUT KEBERSAMAAN DENGAN MASYARAKAT lebih kuat.
Bersama masyarakat BERWISATA dan BERSILATURAHIM ke TOKOH NASIONAL, mantan Presiden RI ke 7 dan ke Keraton Solo.
Tujuannya memperkuat ikatan kebersamaan saling bekerja sama, meningkatkan peran kesetiakawanan dan kontrol sosial.
“Merajut adalah metode membuat kain, pakaian, atau kerajinan tangan (seperti tas, dompet, syal) dari sehelai benang menggunakan jarum rajut (hook/pen) untuk membentuk pola, bersambungan, menghasilkan tekstur yang elastis dan fleksibel melalui pengaitan benang (loop) secara terstruktur.“
Dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional ke 80 DPC PJI Kab Nganjuk “menggunakan Metode Merajut Ikatan Sosial“, menciptakan peningkatan kebersamaan dan kekuatan bersama sebagai manifestasi memperkuat menjalankan PILAR Ke IV Demokrasi ( peran kontrol sosial ). (Impi)


















