
GERSIK I Beritakarya.com - Di tengah padatnya arus mudik Lebaran 2026, sebuah peristiwa tak biasa terjadi di jalur Tol Tandes, Surabaya. Personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Gresik melakukan aksi kejar-kejaran dengan sebuah bus demi menyelamatkan sepasang pemudik yang tertinggal.
Aksi ini menuai apresiasi karena menunjukkan respons cepat aparat. Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: mengapa peserta program mudik gratis bisa tertinggal tanpa mekanisme pengawasan yang ketat? Terlambat 45 Menit, Nyaris Gagal Mudik.
Peristiwa bermula dari keberangkatan program mudik gratis di Kantor Pemkab Gresik sekitar pukul 07.30 WIB. Sepasang suami istri asal Situbondo datang terlambat sekitar 45 menit dan mendapati bus telah berangkat lebih dulu.Tanpa kepastian solusi di lokasi, keduanya sempat diliputi kepanikan.
Harapan untuk pulang kampung nyaris pupus, terlebih di tengah keterbatasan moda transportasi saat puncak arus mudik.Kejaran Dramatis Hingga Masuk TolMelihat kondisi tersebut, anggota Satlantas Polres Gresik bergerak cepat. Pasangan itu langsung dibawa menggunakan kendaraan Patroli dan Pengawalan (Patwal) untuk mengejar bus yang sudah melaju.
Dengan sirine meraung, petugas membelah arus lalu lintas dan melakukan koordinasi intens melalui radio untuk melacak posisi bus. Pengejaran bahkan berlanjut hingga masuk jalur tol.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil di kawasan Tol Tandes. Bus berhasil dihentikan, dan kedua pemudik kembali naik untuk melanjutkan perjalanan.
Polisi: Tidak Boleh Ada yang TerlantarKasat Lantas Polres Gresik, AKP Nur Arifin, menegaskan bahwa tindakan cepat tersebut merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat.
“Kami langsung bergerak agar pemudik tetap bisa berangkat. Instruksi pimpinan jelas, tidak boleh ada yang tertinggal,” ujarnya.
Pemudik: Dari Pasrah Menjadi HaruSalah satu pemudik mengaku sempat pasrah sebelum akhirnya mendapat bantuan dari polisi. Ia tidak menyangka akan dikawal hingga masuk tol demi mengejar bus. “Kalau tidak dibantu, mungkin kami gagal pulang kampung,” ungkapnya.
Apresiasi dan Evaluasi: Sistem Jangan Kalah Cepat dari ResponsAksi ini memperlihatkan sisi humanis aparat di tengah tekanan pengamanan arus mudik. Respons cepat dan empati menjadi nilai lebih yang patut diapresiasi.
Namun, peristiwa ini juga membuka celah evaluasi serius. Program mudik gratis seharusnya tidak menyisakan ruang bagi peserta tertinggal tanpa solusi terstruktur.
Ketiadaan sistem absensi final, minimnya koordinasi lapangan, atau tidak adanya toleransi waktu yang terukur berpotensi memicu kejadian serupa.
Jangan Bergantung pada Aksi Heroik Kejar-kejaran di jalan tol bukanlah solusi ideal, melainkan respons darurat. Tanpa pembenahan sistem, kejadian seperti ini bisa terulang—dan tidak selalu berakhir sebaik kali ini.
Mudik adalah kebutuhan sosial yang menyangkut keselamatan dan kepastian layanan. Karena itu, penyelenggaraan program harus ditopang sistem yang disiplin, bukan bergantung pada aksi heroik aparat di lapangan.
Peristiwa di Tol Tandes menjadi cermin dua hal sekaligus: kecepatan respons aparat yang patut diapresiasi, dan pentingnya pembenahan tata kelola layanan publik agar tidak menyisakan celah bagi warga untuk tertinggal.
Kaperwil Jatim










