
JAKARTA I Beritakarya.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui pemodelan probabilitas curah hujan 20 mm/hari mengeluarkan peringatan kewaspadaan potensi hujan menengah hingga tinggi pada 24–26 Februari 2026.
Dalam rilis yang dibagikan oleh Mas Annadwi (Post_MKG), sejumlah wilayah di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara masuk kategori WASPADA dan SIAGA.
Wilayah Berstatus WASPADA:
• Banten
• Jawa Barat
• Nusa Tenggara Barat (NTB)
Wilayah Berstatus SIAGA:
• D.I. Yogyakarta
• Jawa Tengah
• Jawa Timur
• Bali
Berdasarkan analisis pemodelan probabilitas curah hujan ≥20 mm/hari dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat, akumulasi hujan diperkirakan berada pada kategori menengah hingga tinggi, terutama di wilayah selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Analisis Situasi
1. Intensitas dan Dampak Potensial
Curah hujan ≥20 mm/hari tergolong cukup signifikan dalam konteks hidrometeorologi tropis. Jika berlangsung berturut-turut selama 2–3 hari, risiko yang perlu diantisipasi meliputi:
• Banjir genangan dan banjir perkotaan
• Longsor di wilayah perbukitan dan lereng
• Peningkatan debit sungai secara cepat
• Gangguan transportasi darat dan laut
Wilayah selatan Jawa dikenal memiliki kontur topografi berbukit dan daerah aliran sungai pendek namun curam, sehingga respons terhadap hujan intens dapat terjadi relatif cepat.
2. Mengapa Wilayah Selatan?
Secara klimatologis, bagian selatan Jawa–Bali–NTB lebih terbuka terhadap suplai uap air dari Samudera Hindia. Jika terdapat:
• Penguatan angin baratan,
• Konvergensi angin,
• atau gangguan atmosfer skala regional,
maka potensi pembentukan awan konvektif meningkat di zona tersebut.
Perbedaan Status WASPADA dan SIAGA
• WASPADA: Potensi hujan signifikan ada, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
• SIAGA: Risiko dampak lebih tinggi; pemerintah daerah dan instansi terkait perlu menyiapkan langkah antisipatif lebih konkret.
Status SIAGA di DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali mengindikasikan probabilitas dampak hidrometeorologis lebih besar dibanding wilayah berstatus WASPADA.
Imbauan Mitigasi
Beberapa langkah yang disarankan:
• Masyarakat di daerah rawan longsor dan bantaran sungai meningkatkan pemantauan kondisi lingkungan.
• Pemerintah daerah memastikan sistem drainase dan pintu air berfungsi optimal.
• Nelayan dan operator transportasi laut memperhatikan pembaruan prakiraan cuaca harian BMKG.
• Koordinasi lintas instansi diperkuat untuk respons cepat jika terjadi kejadian ekstrem.
Pola hujan beruntun selama beberapa hari sering kali lebih berbahaya dibanding hujan sangat lebat dalam satu hari. Akumulasi kelembapan tanah dapat meningkatkan potensi longsor, terutama di wilayah dengan riwayat kejadian sebelumnya.
Jika tren ini berlanjut, penting untuk memantau pembaruan informasi resmi BMKG secara berkala, mengingat dinamika atmosfer tropis dapat berubah dalam hitungan jam hingga hari. ( Red )














