
Gambar salah satu Buto yang biasa disebut Toto Kerot oleh orang Jawa
Menjadi pertanyaan, setiap ke Candi ( Bangunan Cagar Budaya ) terdapat KEPALA BUTO yang melotot betaring dan mata melotot.
Demikian juga ada 2 patung di depan pintu Candi, dua Buto bawah gada.
“Hal itu tidak dijumpai di Candi Birobudur dan Prambanan.”
Apabila mengenal budaya Jawa yang kaya dengan falsafah, sudah sepatutnya menggunakan akal sehat mencari makna di balik sosok Buto tersebut
Termasuk patung buto di wilayah Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Dinamakan TOTOK KEROT yang tangan kirinya patah, ditemukan terpendam dalam tanah dipersawahan dan selanjutnya diangkat tahun 1981, ditengarahi ada di era kerajaan Prabu Jaya Baya.
Buto Buto disebut di atas dikenal “sebagai Dwarapala (penjaga pintu)”, berbentuk raksasa yang dipercayai bertugas melindungi kesucian tempat suci Hindu-Buddha.
Ada literasi cukup memberikan alasan secara falsafah yaitu keberadaan Kunto Dewo dan Kresno, dalam karya Mpu Seda dan Mpu Panulu membuka tabir nalar terhadap Buto -Buto yang keberadaanya ada di bangunan suci, mereferensikan saat berubahnya KRESNA menjadi menjadi BUTO sangat besar dan mengerikan, dikenal namanya BUTO BRAHALA.
Demikian juga terhadap Kunto Dewo saat berubah menjadi BUTO bernama Dewa Amral.
“Kekuatan Buto di atas dikisahkan luar biasa, mampu mengalahkan kejahatan atau perbuatan buruk yang mengancam kehidupan.”
Hal patung mengingatkan pada Nabi Sulaiman yang diperintahkan membuat patung – patung ( QS: Saba : 13. “Mereka (para jin) selalu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan kehendaknya”. Di antaranya (membuat) gedung-gedung tinggi, “patung-patung,” piring-piring (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungku). “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur )”
Tentu secara nalar patung dimaksud di atas “di buat bukan untuk dijadikan BERHALA, akan tetapi di jaman itu belum ada tulisan / huruf, saat Jaman Nabi Sulaiman maka Patung dibuat bagian sarana edukatif” mengenal Tata Budi yang baik, sebagai edukatif mengenal keimanan pada Tuhan.
Hal yang dipastikan bahwa Patung Buto di candi candi tersebut dari literasi bernama “DWARAPALA”.
Patung dibuat untuk “memberikan edukasi terhadap Jiwa Yang Luhur punya Kekuatan yang besar / ilustrasinya seperti BUTO.” Ilustrasi tersebut sebagai protektif atau preventif terhadap serangan perbuatan jahat.
Dalam QS. An – Nas menyebutkan pada garis besarnya bahwa mengingat Tuhan yang disembah, Tuhannya manusia sebagai tempat berlindung, “terhadap perbuatan jahat yang membisisik – bisikan dan menusuk nusuk ke dada manusia, dari segolongan kaum Jin dan Manusia.”
Mengingat Tuhan / berzikir, membuat lipatan energi kebaikan pada psikologis ( “bagai bilangan exponensial/ berkelipatan ganda seperti bilangan berpangkat / kwadrat” ) pada jiwa manusia.
“Ilustrasi di atas diumpamakan seperti saat Kresna ( maknanya jiwa yang lurus) dan Punto Dewo ( maknanya jiwa yang suci ) berubah menjadi Buto Brahala dan Dewa Amral saat harus menghadapi kejahatan atau perbuatan penyebab dosa dosa besar, mempunyai kekuatan super yang luar biasa.
BUTO dapat dimaknai sebagai BUDI KANG TOTO, “bila masuk bangunan suci atau tempat ibadah hendaknya Budi baiknya ditata dahulu, sebab akan menghadap pada Tuhan yang suci untuk memohon.”
Tuhan itu SUCI, QS: Yasin: 83 pada garis besarmya menyampaikan bahwa “Tuhan Itu Maha Kuasa Yang Suci, atas segala sesuatu kembali kepada kuasa Nya.”
Apabila budi luhur menyertai manusia, “energi manusia tersebut mendekat pada Tuhannya, secara nalar akan mendapatkan kekuatan atas kuasaNya”
Kekuatan Tuhan yang diberikan sangat dasyat diilustrasikan bagaikan RAKSASA yang mampu menolak atau melawan energi jahat yang akan menyesatkan.
“Masuk akal saat Kresna dan Kunto Dewo yang dikenal sebagai sosok yang suci energinya saat melawan kejahatan besar menjadi Buto Menakutkan ( medapatkan energi yang besar dari Tuhan ).”
Patung patung “DWARAPALA”. pada bangunan suci, “bisa mungkin secara falsafah gambaran energi yang luar biasa dari Tuhan” saat beribadah disertai jiwa brserah diri dan budi luhur di depan Tuhan Yang Maha Esa.
“Energi di atas akan mampu menolak dan melawan ajakan berusaha berbuat dosa dan sesat.”