
Kisah Malam.
Pada Bulan Suci Ramadhan.
GALIH
Ada pertanyaan dari sahabat hal terkait ungkapan bahasa Jawa tentang Makna Galih secara filosofi.
Dalam falsafah Jawa mengenal tentang GALIH KANGKUNG Karakteristik tanaman kangkung tumbuh merambat, batangnya berongga mengandung air.
Galih umumnya ada pada kayu jenis tanaman keras yaitu bagian inti kayu yang sudah tua, ditandai dengan warna cokelat tua hingga kehitaman.
Ada apa Galih dipertemukan dengan KANGKUNG. Di atas secara nalar tidak ketemu karena Galih Kayu, dipastikan ada pada tanaman yang berkambium.
“Kangkung tanaman tidak berkambium.”
Untuk memaknai kata GALIH merujuk pada kisah WERKUDARA mencari ilmu Sejati melalui sarana air PERWITASARI.
Dalam kisah wayang Werkudara mencari Galih Kangkung adalah perintah Durna, di saat itu Werkudara mencari Ilmu Sejati atau AIR PERWITASARI.
Dalam perjalanan Werkudara, mengalahkan 2 Raksasa di hutan Candra Dimuka, dua raksasa yang tingginya 3 kali darinya, bernama Tikbrasara dan Bukarna ( ternyata penjelmaan Dewa Bayu dan Dewa Indra ) Werkudara ( Jiwa Yang Kuat ) mendapatkan ajaran hidup tentang GUNG SUSUHANING ANGIN punya makna bahwa sosok yang berbudi akan menjadi ajang serangan orang yang berjiwa buruk, demikian juga semakin menjadi tokoh publik terkenal yang berbudi, lurus, semakin banyak musuh menyerang, diharuskan kuat menahan serangan dari luar maupun dari nafsu sendiri, karena mereka yang menyerang kelompok orang amal baiknya yang terputus ( Dalam Kitab Suci Tuhan telah menyampai wahyuNya demikian itu pada QS: Al Kautsar ).
Kelompok seperti di atas sulit akan mengapresiasi kebaikan orang lain.
Maka menjadi tidak heran, bila ada Pemimpin Berbudi dan Berjasa akan diserang secara politis dari berbagai sudut.

Perjalanan selanjutnya Werkudara turun ke kaki Gunung Condro Dimuka, lautnya yang ganas, terjal, licin, curam tebingnya.Saat menginjakkan daratan di laut, tiba tiba ekor ULAR NAGA membelit kakinya, menarik ke tengah laut, dan Werkudara ditenggelamkan.
Dalam kondisi bergumul di dalam lautan, Werkudara menusukkan KUKU PONCONOKONYA ke leher Ular, tembus ke bagian belakang.
Ular Naga Mati, berubah wujud menjadi DEWA RUCI. Disaat seperti di atas Tubuh Werkudara seakan ringan, melayang menuju permukaan laut yang berombak ganas, akan tetapi disaat itu laut menjadi tenang*, tidak bergelombang, Werkudara dapat berdiri dengan nyaman menghadap Dewa Ruci yang berdiri di atas air.
Dewa Ruci memberikan wejangan:
– Menegaskan bahwa diri sejati adalah cerminan cahaya batin yang suci (Pancamaya) di dalam hati, bukan nafsu duniawi;
– Manunggaling Kawula Gusti, adalah jiwa ketawadhuan manusia dengan sang Pencipta, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat nadi, demikian itu ilmu sejati;
– Siraman rohani yang demikian itu yang disebut Air PERWITASARI.
Werkudara saat itu merasakan ketentraman yang luar biasa berada dalam alam yang damai bersama Dewa Ruci.
Air Perwitasari atau Air suci atau ilmu sejati, adalah pengetahuan tentang hakikat hidup, ketiadaan rasa takut, dan kemampuan mengendalikan nafsu, mengedepankan berserah diri ke Tuhan Yang Maha Esa. (Menurut kitab suci orang yang mulia adalah orang yang bertaqwa).
Ajaran di atas menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati hanya dicapai apabila jiwa senantiasa terpelihara bersih dan menjauhkan diri dari perasaan ujub, rumongso biso, adigang, adinggung, adiroso, dan adiguno.
Dari kisah hal di atas kata GALIH dalam falsafah Jawa dapat dijawab dan terkait Hidup Mencari Gali Kangkung ( Kitab Suci menerangkan, sesungguhnya Tuhan Pencipta Alam,enyukai orang orang yang berakal).
Kata Galih dapat di persepsikan sama dengan TAFAKUR ( berpikir mendalam akan kebesaran Tuhannya ).
Kangkung, tanaman merambat, diambil untuk sayur tetap bersemi dan tetap melengkung menjalar, dapat diartikan bahwa:
– hidup itu hati harus iklas berserah diri pada Tuhan tidak sombong atas pengaruh duniawi, seperti batang kangkung yang berlobang berisi air menyejukan;
– batang kangkung dewasa selalu merambat dan melengkung, hidup demikian itu senantiasa harus merendahkan hatinya dan bermanfaat bagi sesama.
Di atas kata GALIH terjawab, demikian juga HIDUP MENCARI GALIHE KANGKUNG juga dapat dijawab.
Dalam ungkapan bahasa jawa, disebut SURO DIRO JOYO NINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI ( Budi Luhur akan mengalahkan kekuasaan yang disebabkan karena kekayaan atau Kedudukkan Politis dalam jabatan ).












